Minggu, 26 Maret 2017

Teknologi dalam Landasan Pedagogik

PERAN TEKNOLOGI DALAM LANDASAN PEDAGOGIK
Esensi Pendidikan
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal I menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kpribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Dari hal tersebut bahwa esensi pendidikan itu sendiri tentu berkaitan dengan apa yang disentuh setiap hari. Tentu yang disentuh setiap hari itu adalah proses belajar. Dalam pendidikan itu sendiri tidak boleh dilakukan hanya satu dimensi, karena pendidikan berkaitan dengan beberapa dimensi. Salah satunya adalah belajar dan mendidik. Belajar dan mendidik sangat sulit untuk membedakannya. Ketika konteks teknologinya masuk maka proses belajar juga berfungsi.
Belajar adalah upaya untuk mengubah seseorang yang dilakukan secara sadar. Tetapi jika dilakukan secara tidak sadar itu bukan merupakan belajar. Proses perubahan yang dilakukan secara sadar tentu harus butuh suatu perencanaan. Sedangkan proses yang dilakukan secara tidak sadar dan tidak terencana disebut dengan proses pertumbuhan. Misalnya seorang anak yang baru lahir dan dia bisa duduk, lalu bisa merangkak dan seterusnya. Proses ini terjadi secara tidak sadar atau tidak terrencana. 
Pendidikan itu sendiri pada dasarnya adalah aktivitas sadar atau aktifitas terrencana berupa bimbingan bagi penumbuh-kembangan potensi Ilahiyat, agar manusia dapat memerankan dirinya selaku pengabdi Allah secara tepat guna dalam kadar yang optimal. Dengan demikian pendidikan merupakan aktifitas yang bertahap, terprogram dan berkesimbungan serta perencanaan.
Ada beberapa defenisi tentang perencanaan yang rumusannya berbeda-beda satu dengan yang lain. Perencanaan adalah menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta, imajinasi dan asumsi untuk masa yang akan datang dengan tujuan memvisualisasi dan memformulasikan hasil yang dinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan dan perilaku dalam batas-batas yang dapat diterima yang akan digunakan dalam penyelesaian. Perencanaan disini menekankan pada usaha menyeleksi dan menghubungkan sesuatu dengan kepentingan masa yang akan datang serta usaha untuk mencapainya.
Defenisi lain dari perencanaan adalah hubungan antara apa yang ada sekarang dengan bagaimana seharusnya yang berkaitan dengan kebutuhan, penentuan tujuan, prioritas, program dan alokasi sumber. Bagaimana seharusnya adalah mengacu pada masa yang akan datang. Perencanaan disini menekankan kepada usaha mengisi kesenjangan antara keadaan sekarang dengan keadaan yang akan datang disesuaikan dengan apa yang dicita-citakan, ialah menghilangkan jarak antara keadaan sekarang dengan keadaan mendatang yang diinginkan.
Dengan demikian perencanaan adalah suatu cara yang memuaskan untuk membuat kegiatan dapat berjalan dengan baik, disertai dengan berbagai langkah yang antisipatif guna memperkecil kesenjangan yang terjadi sehingga kegiatan tersebut mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam proses belajar seorang guru harus memiliki peran penting untuk memanusiakan peserta didik. Tujuan tersebut biasa tercapai apabila ada perencanaan (planning) yang baik. Tanpa ada perencanaan maka proses belajar tidak akan berjalan dengan baik. Bahkan waktu yang tentukan akan habis begitu saja. Sehingga peran teknologi dalam membentuk kepribadian seorang guru untuk bisa merencanakan sesuatu pembelajaran dikelas. Contohnya membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), membuat bahan ajar yang sederhana yang diawali dengan membuat skemata/peta konsep yang berkaitan dengan materi yang diajar. Dengan hal tersebut maka yakin proses pembelajaran akan tercapai dan peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

Hakikat Manusia Dalam Pendidikan
Manusia pada hakikatnya diciptakan untuk mengemban tugas-tugas pengabdian kepada penciptaNya. Agar tugas dimaksud dapat dilaksanakan dengan baik, maka Sang Pencipta telah menganugerahkan manusia seperangkat potensi yang dapat ditumbukembangkan. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Alaq ayat 1 yang artinya “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan” maksud dari disuruh “baca” disinilah membaca potensi yang ada dalam dada.
Dan juga Firman Allah SWT dalam Quran Surat Al Isra ayat 14 – 15 yang artinya : “(14)  Bacalah kitabmu cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisap terhadapmu. (15) barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah) maka sesungguhnya di berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus rasul?”
Jadi yang kita bacalah adalah potensi yang dalam dada kita. Potensi yang siap pakai tersebut dianugerahkan dalam bentuk kemampuan dasar, yang hanya mungkin berkembang secara optimal melalui bimbingan dan arahan sejalan dengan petunjuk Sang Penciptanya. Mengacu kepada prinsip penciptaan ini maka menurut filsafat pendidikan manusia adalah makhluk yang berpotensi dan memiliki peluang untuk dididik.
Banyak hal secara parsial yang bersangkutan dengan manusia sudah diketahui secara jelas dan pasti. Tapi secara utuh menyeluruh jauh lebih banyak persoalan yang belum dapat diketahui secara konkret, jelas dan pasti. Dengan perkataan lain, hal-hal yang fisis kuantitatif pada umumnya sudah jelas tetapi hal-hal spiritual kualitatif masih tetap tertinggal sebagai misteri.
            Ketika potensi itu ada pada manusia, yang merupakan kitab yang ada dalam dadanya. Sehingga manusia dituntut untuk memahami dirinya sendiri. Di dalam konteks pendidikan manusia adalah makhluk yang selalu mencoba memerankan diri sebagai subjek dan objek. Sebagai subjek dia selalu berusaha mendidik dirinya dan sebagai objek dia berusaha untuk perbaikan perilakunya
            Manusia pada esensinya tidak siap hidup. Maka dia harus dibelajarkan untuk berusaha. Berusaha disini adalah terpenuhinya kebutuhan hidup. Sebagaimana teori Human Capital mengatakan bahwa bagaimana proses penanaman nilai (value) pada manusia sehingga nilai itu benar-benar ada pada diri manusia itu sendiri. Suatu nilai itu ada pada manusia  maka pasti dia benar memahami manusia yang sebenarnya manusia, yang dalam bahasa agama adalah manusia yang mulia dan bertaqwa.
Sebagai firman Allah SWT Quran Surat Al Hujurat ayat 13 yang artinya : ”… Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lahi Maha Mengenal’.
            Dari ayat diatas jelas bahwa manusia yang mulia adalah manusia yang bertaqwa. Taqwa adalah menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhkan segala larangan-larangaNya.
Ada dua kelompok manusia sebagai firman Allah SWT dalam Quran surat At-Taghabun ayat 2 yang artinya : “Dialah yang menciptakan kami maka diantara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin, Dan Allah Maha  Melihat apa yang kamu kerjakan”. Dari ayat ini jelas bawah kelompok manusia ada dua kelompok yaitu (1) mukmin dan (2) kafir.
Mukmin/Mu'min  adalah istilah Islam dalam bahasa Arab yang sering disebut dalam Al-Qur'an, berarti "orang beriman", dan merupakan seorang Muslimyang dapat memenuhi seluruh kehendak Allah, dan memiliki iman kuat dalam hatinya. Selain itu, ada pendapat lain yang menyatakan bahwa mu'min tidak serta-merta berarti "orang beriman" namun orang yang menyerahkan dirinya agar diatur dengan Din Islam. Selain itu, mu'min juga dapat dikatakan orang yang memberikan keamanan atas Muslim.
Dalam Al-Qur'an dijelaskan:
Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah "kami telah tunduk", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Surah Al-Hujurat [49]:14)
Ayat ini menjelaskan perbedaan antara seorang Muslim dan orang beriman. Juga:
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada” Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (Surah An-Nisa' [4]:136)
Ayat ini mengacu pada orang yang beriman, yang diperintah untuk tetap beriman, dan menjelaskan banyaknya syarat-syarat beriman.
Perbedaan antara orang beriman dan orang yang tunduk adalah salah satu poin penting dalam munculnya ajaran tasawuf yang menitik beratkan pada keimanan yang bersifat bathin (qalbu). Tasawuf sendiri adalah ilmu dan tatacara (practice) untuk mencapai maqam yakin tersebut, selain maqam para pecinta Allah. Mereka mengetahui rahasia-rahasia hati dan paham mengenai teori dasar psikoanalis yakni alam sadar dan alam bawah sadar (hati). "Sesungguhnya hati hanya bisa ditundukkan dengan keyakinan" (Al-Ghazali/Ihya Ulumuddin)
Pemahaman akan perbedaan antara orang yang tunduk dan orang yang beriman dalam qalbu (hati) dapat semakin dimengerti dengan mempelajari teori psikoanalisis, bahwa manusia itu memiliki dua komponen penting dalam dirinya, yakni alam sadar dan alam bawah sadar. Alam bawah sadar (subconsciousness) adalah tempat munculnya hasrat (hawa nafsu) dan emosi. Dalam psikoanalisis, keyakinan terdalam itu terletak pada alam bawah sadar dan keyakinan inilah yang akan menggerakkan hasrat kita. Sebagai contoh jika keyakinan dalam alam bawah sadar mengatakan bahwa "harta adalah parameter kemuliaan" maka hasrat kita akan berusaha mencari harta, namun keyakinan pada alam bawah sadar mengatakan bahwa "Allah adalah parameter kemuliaan", maka otomatis hasrat akan mencari Allah. Dalilnya, nabi SAW bersabda: "Tidak sempurna iman kalian sebelum hawa nafsunya mengikuti apa yang kubawa." (HR Ahmad dan Al-Thabrari).
Kāfir secara harfiah berarti orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran. Dalam terminologi kultural kata ini digunakan dalam agama Islam untuk merujuk kepada orang-orang yang mengingkari nikmat Allah (sebagai lawan dari kata syakir, yang berarti orang yang bersyukur). Kāfir berasal dari kata kufur yang berarti ingkar, menolak atau menutup. Pada zaman sebelum Agama Islam, istilah tersebut digunakan untuk para petani yang sedang menanam benih di ladang, menutup/mengubur dengan tanah. Sehingga kalimat kāfir bisa dimplikasikan menjadi "seseorang yang bersembunyi atau menutup diri".
Jadi menurut syariat Islam, manusia kāfir yaitu: Mengingkari Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah dan mengingkari Rasul Muhammad SAW sebagai utusan-Nya.
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (Al-Baqarah ayat 6)”
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani (kuffar). (Al-Hadid 20) 
            Pertanyaan yang muncul kenapa manusia disiapkan hidup? Karena ada dua hal yaitu (1) supaya berbuat kebajikan dan (2) jangan ingkar. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al Baqarah ayat 44 yang artinya :
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”
Maksud dari ayat diatas adalah manusia harus mengerjakan suatu kebaktian tanpa disuruh oleh orang lain, karena telah jelaskan dalam kitab Al Quran.
            Manusia sebagai manusia yang mulia, tentunya harus memahami dari mana awal proses kehidupannya. Dalam teori biogenesis manusia tercipta dari pertautan antara sel sperma dari bapak dan sel ovum dari Ibu. Pertautan antara sperma dengan ovum ini menjadi individu baru. Munculnya individu baru ini disebut dengan manusia secara jasmani. Munculnya individu ini akan mengalami pertumbuhan. Pertanyaan apa yang menjadikan individu ini mengalami pertumbuhan? Dengan menggunakan proses secara kimia, ternyata ada unsur yang menjadikan individu itu mengalami pertumbuhan. Unsur-unsur tersebut meliputi 4(empat) unsur utama yaitu (1) api, (2) angin, (3) tanah, dan (4) air. Empat unsur inilah yang memberikan pertumbuhan ini yang bercampur menjadi unsur manusia yang insani. Dalam bahasa teologi, manusia secara insan yaitu (1) Roh jasadi, (2) Roh Rehani, (3) Roh Rahmani, dan (4) Roh Idafi.
            Hakekat keempat unsur ini memiliki karakteristik dan sifat yang kelak akan turut membentuk   karakter individu manusia. Sifat api (roh idafi) pada dasarnya pantang kekalahan. Karakter ini turut mewarnai karakter manusia yang cenderung pantang kalah. Sifat angin (roh rehani) cenderung pantang  kelintasan. Sifat ini membentuk karakter manusia yang sifatnya misalnya mudah tersinggung. Sedangkan sifat tanah (roh jasadi) selalu pantang kekurangan. Sifat ini pula yang turut mewarnai karakter manusia cenderung tidak puas denagn apa yang sudah dimilikinya. Dan terkahir sifat dari pada air (roh rahmani) yang cenderung pantang kerendahan. Sifat ini akan membentuk karakter manusia cenderung untuk tidak mau dibawah derajat orang lain.
            Setelah mengalami proses pertumbuhan oleh empat unsur ini selanjutnya individu manusia mengalami perkembangan. Perkembangan diawali dengan ditiupnya roh dalam jasmani ini dan proses ini menyebabkan lahirnya manusia secara rohaniah. Mengapa mengalami perkembangan? Sebab pada fase ini awal mulainya semua indra yang ada secara jasmani mulai berfungsi. Mata mulai melihat, telinga mulai mendengar dan indra lainnya semua berfungsi. Siapa yang membuat berfungsi? Ternyata roh yang datang dari tuhan. Berbawaan dengan penciptaan roh pada manusia lahir empat sifat yakni (1) siddiq, (2) tabliqh, (3) amanah, dan (4) fathonah
            Siddiq bermakna benar, jujur. Inilah hakekat manusia secara rohaniah. Dalam dirinya tidak mau berbohong dia selalu berusaha benar dan jujur dalam setiap aktifitasnya. Tabligh bermakna menyampaikan, artinya dalam diri manusia hakekat kerohanianya yang selalu menyampaikan dalam dirinya bahwa mana yang baik dan mana yang salah. Peran tabligh ini menjadikan manusia berusaha melakukan sesuatu yang baik dan menghindari segala yang buruk. Sedangkan amanah merupakan unsur yang bermakna titipan tuhan. Artinya dalam diri manusia ada titipan tuhan yang berwujudnya dalam bentuk roh dan harus dijaga. Dan terakhir adalah fathona bermakna bijaksana. Artinya kehadiran manusia secara rohaniah menjadikan manusia menjadi bijaksana. Dalam dirinya selalu mengedepankan timbang rasa dari pada emosional yang tak terkendali. Inilah hakekat manusia sebenarnya.
            Setelah memahami hakikat manusia sebenarnya maka tentunya manusa harus memahami siapa yang membelajarkan?
Sebagaimana firman Allah SWT Quran Surat At Taubah ayat 33 yang artinya “Dialah yang telah mnegutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Quran dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai”
Firman Allah SWT Surat As Saff ayat 9 yang artinya: “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membwa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya meskipun orang musrik membencinya”.
Firman Allah SWT Surat Al Fath ayat 28 yang artinya : “Dialah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkanNya terhdap semua. Dan cukuplah Allah sebagai saksi”.
Dari tiga ayat diatas jelas yang membelajarkan manusia adalah Baginda Rasulullah SAW dengan membawa Petunjuk yang hak yaitu Al Quran dan agama yang sempurna yaitu Agama Islam.

            Dengan demikian peran teknologi dalam landasan pedagogik sangat penting sekali karena mampu memahami hakikat manusia dalam pendidikan sebagai proses manusia untuk memanusiakan dirinya harus benar-benar terwujud dalam kategori manusia yang mulia yang mampu mendidik dirinya dan mampu memperbaiki perilakunya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar