PERAN TEKNOLOGI DALAM
LANDASAN PEDAGOGIK
Esensi Pendidikan
Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional Bab I Pasal I menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kpribadian, kecerdasan, akhlak mulia
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Dari
hal tersebut bahwa esensi pendidikan itu sendiri tentu berkaitan dengan apa
yang disentuh setiap hari. Tentu yang disentuh setiap hari itu adalah proses
belajar. Dalam pendidikan itu sendiri tidak boleh dilakukan hanya satu dimensi,
karena pendidikan berkaitan dengan beberapa dimensi. Salah satunya adalah belajar
dan mendidik. Belajar dan mendidik sangat sulit untuk membedakannya. Ketika konteks
teknologinya masuk maka proses belajar juga berfungsi.
Belajar adalah upaya untuk mengubah
seseorang yang dilakukan secara sadar. Tetapi jika dilakukan secara tidak sadar
itu bukan merupakan belajar. Proses perubahan yang dilakukan secara sadar tentu
harus butuh suatu perencanaan. Sedangkan proses yang dilakukan secara tidak
sadar dan tidak terencana disebut dengan proses pertumbuhan. Misalnya seorang
anak yang baru lahir dan dia bisa duduk, lalu bisa merangkak dan seterusnya.
Proses ini terjadi secara tidak sadar atau tidak terrencana.
Pendidikan itu sendiri pada
dasarnya adalah aktivitas sadar atau aktifitas terrencana berupa bimbingan bagi
penumbuh-kembangan potensi Ilahiyat, agar manusia dapat memerankan dirinya
selaku pengabdi Allah secara tepat guna dalam kadar yang optimal. Dengan
demikian pendidikan merupakan aktifitas yang bertahap, terprogram dan
berkesimbungan serta perencanaan.
Ada beberapa defenisi tentang
perencanaan yang rumusannya berbeda-beda satu dengan yang lain. Perencanaan adalah
menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta, imajinasi dan asumsi untuk
masa yang akan datang dengan tujuan memvisualisasi dan memformulasikan hasil
yang dinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan dan perilaku dalam batas-batas
yang dapat diterima yang akan digunakan dalam penyelesaian. Perencanaan disini
menekankan pada usaha menyeleksi dan menghubungkan sesuatu dengan kepentingan
masa yang akan datang serta usaha untuk mencapainya.
Defenisi lain dari perencanaan
adalah hubungan antara apa yang ada sekarang dengan bagaimana seharusnya yang
berkaitan dengan kebutuhan, penentuan tujuan, prioritas, program dan alokasi
sumber. Bagaimana seharusnya adalah mengacu pada masa yang akan datang.
Perencanaan disini menekankan kepada usaha mengisi kesenjangan antara keadaan
sekarang dengan keadaan yang akan datang disesuaikan dengan apa yang
dicita-citakan, ialah menghilangkan jarak antara keadaan sekarang dengan
keadaan mendatang yang diinginkan.
Dengan demikian perencanaan
adalah suatu cara yang memuaskan untuk membuat kegiatan dapat berjalan dengan
baik, disertai dengan berbagai langkah yang antisipatif guna memperkecil
kesenjangan yang terjadi sehingga kegiatan tersebut mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
Dalam proses belajar seorang guru
harus memiliki peran penting untuk memanusiakan peserta didik. Tujuan tersebut
biasa tercapai apabila ada perencanaan (planning) yang baik. Tanpa ada
perencanaan maka proses belajar tidak akan berjalan dengan baik. Bahkan waktu
yang tentukan akan habis begitu saja. Sehingga peran teknologi dalam membentuk
kepribadian seorang guru untuk bisa merencanakan sesuatu pembelajaran dikelas.
Contohnya membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), membuat bahan ajar
yang sederhana yang diawali dengan membuat skemata/peta konsep yang berkaitan
dengan materi yang diajar. Dengan hal tersebut maka yakin proses pembelajaran
akan tercapai dan peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran yang
diinginkan.
Hakikat Manusia Dalam Pendidikan
Manusia pada hakikatnya
diciptakan untuk mengemban tugas-tugas pengabdian kepada penciptaNya. Agar
tugas dimaksud dapat dilaksanakan dengan baik, maka Sang Pencipta telah
menganugerahkan manusia seperangkat potensi yang dapat ditumbukembangkan. Sebagaimana
firman Allah dalam Surat Al Alaq ayat 1 yang artinya “Bacalah dengan
menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan” maksud dari disuruh “baca”
disinilah membaca potensi yang ada dalam dada.
Dan juga Firman Allah SWT dalam
Quran Surat Al Isra ayat 14 – 15 yang artinya : “(14) Bacalah kitabmu cukuplah dirimu sendiri pada
waktu ini sebagai penghisap terhadapmu. (15) barangsiapa yang berbuat sesuai
dengan hidayah (Allah) maka sesungguhnya di berbuat itu untuk (keselamatan)
dirinya sendiri dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi
(kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa
orang lain dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus rasul?”
Jadi yang kita bacalah adalah
potensi yang dalam dada kita. Potensi yang siap pakai tersebut dianugerahkan
dalam bentuk kemampuan dasar, yang hanya mungkin berkembang secara optimal
melalui bimbingan dan arahan sejalan dengan petunjuk Sang Penciptanya. Mengacu
kepada prinsip penciptaan ini maka menurut filsafat pendidikan manusia adalah
makhluk yang berpotensi dan memiliki peluang untuk dididik.
Banyak hal secara parsial yang
bersangkutan dengan manusia sudah diketahui secara jelas dan pasti. Tapi secara
utuh menyeluruh jauh lebih banyak persoalan yang belum dapat diketahui secara
konkret, jelas dan pasti. Dengan perkataan lain, hal-hal yang fisis kuantitatif
pada umumnya sudah jelas tetapi hal-hal spiritual kualitatif masih tetap
tertinggal sebagai misteri.
Ketika
potensi itu ada pada manusia, yang merupakan kitab yang ada dalam dadanya.
Sehingga manusia dituntut untuk memahami dirinya sendiri. Di dalam konteks
pendidikan manusia adalah makhluk yang selalu mencoba memerankan diri sebagai
subjek dan objek. Sebagai subjek dia selalu berusaha mendidik dirinya dan sebagai
objek dia berusaha untuk perbaikan perilakunya
Manusia
pada esensinya tidak siap hidup. Maka dia harus dibelajarkan untuk berusaha.
Berusaha disini adalah terpenuhinya kebutuhan hidup. Sebagaimana teori Human
Capital mengatakan bahwa bagaimana proses penanaman nilai (value) pada manusia
sehingga nilai itu benar-benar ada pada diri manusia itu sendiri. Suatu nilai
itu ada pada manusia maka pasti dia
benar memahami manusia yang sebenarnya manusia, yang dalam bahasa agama adalah
manusia yang mulia dan bertaqwa.
Sebagai firman Allah SWT Quran Surat Al Hujurat ayat
13 yang artinya : ”… Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lahi Maha Mengenal’.
Dari ayat
diatas jelas bahwa manusia yang mulia adalah manusia yang bertaqwa. Taqwa
adalah menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhkan segala
larangan-larangaNya.
Ada dua kelompok manusia sebagai
firman Allah SWT dalam Quran surat At-Taghabun ayat 2 yang artinya : “Dialah
yang menciptakan kami maka diantara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada
yang mukmin, Dan Allah Maha Melihat apa
yang kamu kerjakan”. Dari ayat ini jelas bawah kelompok manusia ada dua
kelompok yaitu (1) mukmin dan (2) kafir.
Mukmin/Mu'min adalah istilah Islam dalam bahasa Arab yang sering disebut dalam Al-Qur'an,
berarti "orang beriman", dan merupakan seorang Muslimyang dapat memenuhi seluruh kehendak Allah, dan memiliki iman kuat dalam hatinya. Selain itu,
ada pendapat lain yang menyatakan bahwa mu'min tidak serta-merta berarti "orang
beriman" namun orang yang menyerahkan dirinya agar diatur dengan Din Islam. Selain itu, mu'min juga
dapat dikatakan orang yang memberikan keamanan atas Muslim.
Dalam
Al-Qur'an dijelaskan:
|
“
|
Orang-orang Arab
Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu
belum beriman, tapi katakanlah "kami telah tunduk", karena iman itu
belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan rasul-Nya,
Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang." (Surah
Al-Hujurat [49]:14)”
|
|
“Wahai orang-orang
yang beriman, tetaplah beriman
kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada
rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir
kepada” Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan
hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (Surah
An-Nisa' [4]:136)
|
Ayat ini mengacu pada
orang yang beriman, yang diperintah untuk tetap beriman, dan menjelaskan
banyaknya syarat-syarat beriman.
Perbedaan antara orang beriman dan orang yang tunduk
adalah salah satu poin penting dalam munculnya ajaran tasawuf yang menitik
beratkan pada keimanan yang bersifat bathin (qalbu). Tasawuf sendiri adalah
ilmu dan tatacara (practice) untuk mencapai maqam yakin tersebut, selain maqam
para pecinta Allah. Mereka mengetahui rahasia-rahasia hati dan paham mengenai
teori dasar psikoanalis yakni alam sadar dan alam bawah sadar (hati).
"Sesungguhnya hati hanya bisa ditundukkan dengan keyakinan"
(Al-Ghazali/Ihya Ulumuddin)
Pemahaman akan
perbedaan antara orang yang tunduk dan orang yang beriman dalam qalbu (hati)
dapat semakin dimengerti dengan mempelajari teori psikoanalisis, bahwa manusia
itu memiliki dua komponen penting dalam dirinya, yakni alam sadar dan alam
bawah sadar. Alam bawah sadar (subconsciousness) adalah tempat munculnya
hasrat (hawa nafsu) dan emosi. Dalam psikoanalisis, keyakinan terdalam itu
terletak pada alam bawah sadar dan keyakinan inilah yang akan menggerakkan
hasrat kita. Sebagai contoh jika keyakinan dalam alam bawah sadar mengatakan
bahwa "harta adalah parameter kemuliaan" maka hasrat kita akan
berusaha mencari harta, namun keyakinan pada alam bawah sadar mengatakan bahwa
"Allah adalah parameter kemuliaan", maka otomatis hasrat akan mencari
Allah. Dalilnya, nabi SAW bersabda:
"Tidak sempurna iman kalian sebelum hawa nafsunya mengikuti apa yang
kubawa." (HR Ahmad dan Al-Thabrari).
Kāfir
secara harfiah berarti orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran.
Dalam terminologi kultural kata ini digunakan dalam agama Islam untuk merujuk
kepada orang-orang yang mengingkari nikmat Allah (sebagai lawan dari kata
syakir, yang berarti orang yang bersyukur). Kāfir berasal dari kata kufur yang
berarti ingkar, menolak atau menutup. Pada zaman sebelum
Agama Islam, istilah tersebut digunakan untuk para petani yang sedang menanam
benih di ladang, menutup/mengubur dengan tanah. Sehingga kalimat kāfir bisa
dimplikasikan menjadi "seseorang yang bersembunyi atau menutup diri".
Jadi menurut syariat Islam, manusia kāfir yaitu:
Mengingkari Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah dan mengingkari
Rasul Muhammad SAW sebagai utusan-Nya.
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (Al-Baqarah ayat 6)”
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani (kuffar). (Al-Hadid 20)
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (Al-Baqarah ayat 6)”
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani (kuffar). (Al-Hadid 20)
Pertanyaan yang
muncul kenapa manusia disiapkan hidup? Karena ada dua hal yaitu (1) supaya
berbuat kebajikan dan (2) jangan ingkar. Sebagaimana firman Allah SWT dalam
Surat Al Baqarah ayat 44 yang artinya :
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan)
kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendri, padahal kamu
membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?”
Maksud dari ayat diatas adalah manusia harus
mengerjakan suatu kebaktian tanpa disuruh oleh orang lain, karena telah
jelaskan dalam kitab Al Quran.
Manusia
sebagai manusia yang mulia, tentunya harus memahami dari mana awal proses
kehidupannya. Dalam teori biogenesis manusia tercipta dari pertautan antara sel
sperma dari bapak dan sel ovum dari Ibu. Pertautan antara sperma dengan ovum
ini menjadi individu baru. Munculnya individu baru ini disebut dengan manusia
secara jasmani. Munculnya individu ini akan mengalami pertumbuhan. Pertanyaan
apa yang menjadikan individu ini mengalami pertumbuhan? Dengan menggunakan
proses secara kimia, ternyata ada unsur yang menjadikan individu itu mengalami
pertumbuhan. Unsur-unsur tersebut meliputi 4(empat) unsur utama yaitu (1) api,
(2) angin, (3) tanah, dan (4) air. Empat unsur inilah yang memberikan
pertumbuhan ini yang bercampur menjadi unsur manusia yang insani. Dalam bahasa
teologi, manusia secara insan yaitu (1) Roh jasadi, (2) Roh Rehani, (3) Roh
Rahmani, dan (4) Roh Idafi.
Hakekat
keempat unsur ini memiliki karakteristik dan sifat yang kelak akan turut
membentuk karakter individu manusia. Sifat api (roh
idafi) pada dasarnya pantang kekalahan. Karakter ini turut mewarnai karakter
manusia yang cenderung pantang kalah. Sifat angin (roh rehani) cenderung
pantang kelintasan. Sifat ini membentuk
karakter manusia yang sifatnya misalnya mudah tersinggung. Sedangkan sifat
tanah (roh jasadi) selalu pantang kekurangan. Sifat ini pula yang turut
mewarnai karakter manusia cenderung tidak puas denagn apa yang sudah
dimilikinya. Dan terkahir sifat dari pada air (roh rahmani) yang cenderung
pantang kerendahan. Sifat ini akan membentuk karakter manusia cenderung untuk
tidak mau dibawah derajat orang lain.
Setelah
mengalami proses pertumbuhan oleh empat unsur ini selanjutnya individu manusia
mengalami perkembangan. Perkembangan diawali dengan ditiupnya roh dalam jasmani
ini dan proses ini menyebabkan lahirnya manusia secara rohaniah. Mengapa
mengalami perkembangan? Sebab pada fase ini awal mulainya semua indra yang ada
secara jasmani mulai berfungsi. Mata mulai melihat, telinga mulai mendengar dan
indra lainnya semua berfungsi. Siapa yang membuat berfungsi? Ternyata roh yang
datang dari tuhan. Berbawaan dengan penciptaan roh pada manusia lahir empat
sifat yakni (1) siddiq, (2) tabliqh, (3) amanah, dan (4) fathonah
Siddiq
bermakna benar, jujur. Inilah hakekat manusia secara rohaniah. Dalam dirinya
tidak mau berbohong dia selalu berusaha benar dan jujur dalam setiap aktifitasnya.
Tabligh bermakna menyampaikan, artinya dalam diri manusia hakekat kerohanianya
yang selalu menyampaikan dalam dirinya bahwa mana yang baik dan mana yang
salah. Peran tabligh ini menjadikan manusia berusaha melakukan sesuatu yang
baik dan menghindari segala yang buruk. Sedangkan amanah merupakan unsur yang
bermakna titipan tuhan. Artinya dalam diri manusia ada titipan tuhan yang
berwujudnya dalam bentuk roh dan harus dijaga. Dan terakhir adalah fathona
bermakna bijaksana. Artinya kehadiran manusia secara rohaniah menjadikan
manusia menjadi bijaksana. Dalam dirinya selalu mengedepankan timbang rasa dari
pada emosional yang tak terkendali. Inilah hakekat manusia sebenarnya.
Setelah memahami hakikat manusia
sebenarnya maka tentunya manusa harus memahami siapa yang membelajarkan?
Sebagaimana firman Allah SWT Quran Surat At Taubah
ayat 33 yang artinya “Dialah yang telah mnegutus Rasul-Nya (dengan membawa)
petunjuk (Al Quran dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama
walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai”
Firman Allah SWT Surat As Saff
ayat 9 yang artinya: “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membwa petunjuk
dan agama yang benar agar Dia memenangkannya meskipun orang musrik
membencinya”.
Firman Allah SWT Surat Al Fath
ayat 28 yang artinya : “Dialah yang mengutus RasulNya dengan membawa
petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkanNya terhdap semua. Dan cukuplah
Allah sebagai saksi”.
Dari tiga ayat diatas jelas yang membelajarkan manusia
adalah Baginda Rasulullah SAW dengan membawa Petunjuk yang hak yaitu Al Quran
dan agama yang sempurna yaitu Agama Islam.
Dengan
demikian peran teknologi dalam landasan pedagogik sangat penting sekali karena mampu
memahami hakikat manusia dalam pendidikan sebagai proses manusia untuk memanusiakan
dirinya harus benar-benar terwujud dalam kategori manusia yang mulia yang mampu
mendidik dirinya dan mampu memperbaiki perilakunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar